Ketika kamu terus-menerus marah dengan seseorang, mungkin sudah saatnya kamu menurunkan standar Anda terhadapnya. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan
Jaminlah bagiku enam perkara dari dirimu, niscaya aku jamin bagimu surga: Berkatalah benar jika kalian bicara, tepatilah janjimu jika kalian berjanji, sampaikan amanat jika kalian diberi amanat, jagalah kemaluanmu dan tahanlah pandanganmu serta cegahlah tanganmu (dari perbuatan buruk). (Hadits riwayat Baihagi dari Ubadah bin Shamit).
Bukhari 1904 & Muslim 1151) Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, apabila kita dihina, dimaki orang lain atau diajak berkelahi, agar kita tetap bersabar, menahan diri dan menyampaikan kepada lawan bicara: ‘Saya sedang puasa.’. Sehingga lawan biacara tahu bahwa kita tidak membalas kedzalimannya bukan
Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Tirmidzi, no. 3540 dan Ahmad, 5:154, 176. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan]. Keterangan hadits – Wa laa ubaali: aku tidak pandang banyaknya dosamu. Penjelasan hadits. Kesimpulan dari hadits Anas bin Malik, maghfirah atau ampunan dosa datang karena tiga sebab:
Syekh Utsaimin memaknai larangan marah di sini menjadi dua: Pertama, kontrol atau kendalikan jiwamu ketika ada sebab atau faktor yang menyulut amarahmu agar kamu tidak marah. Kedua, jangan meluapkan amarahmu. Misalnya ada seorang suami yang ingin menceraikan istrinya pada saat sedang marah, maka konteks makna dalam hadits ini adalah
Dam tiga orang yang tidak akan masuk surga, yang durhaka pada orang tua, dayyuts (membiarkan istrinya melakukan maksiat), dan lelaki yang menyerupai perempuan.” Itulah tujuh hadits yang menjelaskan tentang larangan berbuat durhaka kepada orang tua dan apa saja dampak buruknya di dunia dan akhirat.
.
penjelasan hadits jangan marah bagimu surga